Jakarta, 2025 — Kenaikan biaya hidup yang semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak generasi muda Indonesia mulai mengevaluasi ulang cara mereka mengatur uang, konsumsi, dan gaya hidup. Jika dulu Millennial dan Gen Z sering mendapatkan stigma sebagai generasi “pengguna fintech yang impulsif”, kini gambaran itu mulai berubah.
Fenomena terbaru menunjukkan bahwa anak muda Indonesia mulai beralih ke gaya hidup hemat dan minimalis, bukan sekadar sebagai tren estetika, tetapi sebagai strategi bertahan dalam kondisi ekonomi yang menantang.
Kenaikan harga bahan pokok, hunian, transportasi, hingga hiburan digital, membuat generasi muda menghadapi pilihan sulit: terus mempertahankan gaya hidup lama atau menyesuaikannya dengan realitas ekonomi yang semakin menekan. Kini, banyak dari mereka memilih opsi kedua.
1. Kenaikan Biaya Hidup yang Tak Terelakkan
Selama tiga tahun terakhir, inflasi Indonesia bergerak naik-turun, tetapi tetap memberi tekanan pada pengeluaran rumah tangga. Kenaikan harga terjadi di berbagai sektor:
- sewa tempat tinggal yang meningkat di kota besar,
- harga makanan yang naik akibat perubahan iklim dan biaya produksi,
- layanan digital berlangganan yang makin mahal,
- dan biaya transportasi yang terdampak fluktuasi harga energi.
Jika pada 2018–2020 gaya hidup urban masih ditopang oleh promo online, cicilan paylater, dan ongkir gratis, maka memasuki 2025, fasilitas tersebut mulai berkurang. Diskon tidak lagi sedahsyat dulu, sementara pengeluaran meningkat stabil.
Generasi muda pun harus menghadapi kenyataan: penghasilan naiknya tipis, biaya hidup naiknya agresif.
2. Gen Z dan Millennial Memasuki Fase “Realita Ekonomi”
Banyak Gen Z kini mulai memasuki dunia kerja dan merasakan langsung tekanan finansial. Millennial, di sisi lain, mulai memasuki fase hidup yang lebih kompleks: membiayai keluarga, cicilan rumah, pendidikan anak, dan asuransi.
Masuk akal jika dua generasi ini berada di garis depan perubahan gaya hidup nasional.
Beberapa perilaku yang berubah signifikan di 2025:
a. Dari Konsumtif ke Selektif
Jika dulu mudah tergiur “checkout” ketika ada flash sale, kini mereka cenderung bertanya dulu:
- “Apakah ini kebutuhan atau keinginan?”
- “Bisakah aku hidup tanpa ini?”
- “Apakah harga sekarang terlalu mahal?”
Perubahan ini terlihat dalam survei internal berbagai fintech dan bank digital yang menunjukkan penurunan transaksi impulsif hingga 21–35%.
b. Beralih dari Brand Premium ke Value Brand
Generasi muda kini lebih mempertimbangkan kualitas dan ketahanan produk, bukan semata-mata brand. Muncul komunitas-komunitas review “barang murah tapi awet”.
c. Mengurangi Pengeluaran Nongkrong
Coffee shop yang dulu menjadi tempat kerja alternatif kini mulai ditinggalkan. Anak muda memilih:
- kopi sachet,
- masak di rumah,
- atau nongkrong di ruang publik gratis.
d. Lebih Memprioritaskan Tabungan dan Dana Darurat
Kondisi ekonomi yang tidak pasti membuat Gen Z lebih disiplin dalam menyisihkan uang. Platform investasi mencatat peningkatan pembukaan akun usia 18–25 tahun.
3. Minimalisme Bukan Lagi Tren Aesthetic, Tapi Survival Mode
Di Indonesia, gaya hidup minimalis dulu lekat dengan konten yang terlihat “kinfolk”, rumah rapi, warna-warna netral, dan interior clean. Namun kini maknanya bergeser.
Minimalisme tahun 2025 lebih realistis dan membumi
Bukan lagi soal beli furniture estetik, melainkan:
- membeli barang lebih sedikit,
- memilih yang tahan lama,
- menolak utang konsumtif,
- dan mengurangi kepemilikan barang yang tidak esensial.
Anak muda Indonesia mulai mengadopsi prinsip minimalisme Asia, Jepang, hingga gaya “frugal living”. Banyak konten creator membahas:
- menata ulang pengeluaran,
- membuat capsule wardrobe,
- meal prep hemat seminggu,
- atau hidup hanya dengan barang yang “dipakai sungguhan”.
Bukan demi aesthetic, tapi demi keuangan yang lebih stabil.
4. Peran Media Sosial: Edukasi Finansial Jadi Arus Utama
Media sosial turut mendorong tren gaya hidup hemat dan minimalis. Jika pada 2018–2022 influencer lebih fokus pada lifestyle berbiaya tinggi, kini algoritma banyak mendorong konten:
- “cara hidup hemat di Jakarta”
- “budget makan Rp 30 ribu sehari”
- “belanja bulanan versi minimalis”
- “cara keluar dari paylater”
- “decluttering finansial”
- “hack financial sehat untuk usia 20-an”
Konten semacam ini tak hanya viral, tetapi juga menjadi pedoman bagi banyak anak muda.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan besar: generasi muda ingin lebih stabil, bukan lebih glamor.
5. Perusahaan Mulai Melihat Dampaknya
Gaya hidup hemat dan minimalis ternyata tidak hanya berdampak pada dompet individu, tetapi juga pada perilaku pasar dan ekonomi digital.
a. Customer lebih kritis pada harga
Perusahaan yang menaikkan harga tanpa value jelas mulai ditinggalkan.
b. Brand lokal meningkat pamornya
Anak muda lebih memilih produk lokal berkualitas yang lebih terjangkau dibanding brand impor.
c. Pola konsumsi digital berubah
Langganan streaming mulai dipangkas. Banyak yang pindah dari versi premium ke versi gratis dengan iklan.
d. Perusahaan F&B harus pivot
Outlet yang terlalu mahal mulai sepi. Brand menengah dan murah mulai naik daun.
Tren ini memaksa perusahaan beradaptasi: menciptakan produk yang affordable, value-driven, dan jujur secara harga.
6. Ekonomi Sharing dan Barang Bekas Jadi Solusi Baru
Generasi muda kini semakin familiar dengan membeli barang preloved atau thrift. Namun, kini tren tersebut bukan hanya soal fashion, tetapi juga:
- barang elektronik,
- furniture,
- kendaraan,
- bahkan gadget.
Selain itu, konsep sharing economy kembali naik daun:
- sewa alat elektronik,
- sewa pakaian,
- sewa studio atau co-working per jam,
- sewa kendaraan listrik,
- barter barang antar komunitas.
Yang menarik, generasi muda tidak lagi merasa gengsi memakai barang bekas. Ini bukan downgrade, tetapi upgrade cara berpikir: menghemat, mengurangi sampah, dan hidup lebih efisien.
7. Gaya Hidup Hemat Tidak Sama dengan Pelit
Banyak yang salah paham bahwa gaya hidup hemat berarti pelit. Padahal, generasi muda justru mengalihkan pengeluaran ke hal yang lebih penting dan meaningful.
Mereka masih mau spending untuk:
- kesehatan mental,
- pengalaman berharga,
- hobi yang produktif,
- pendidikan dan upskilling,
- traveling yang terencana,
- serta investasi masa depan.
Intinya, mereka tidak berhenti membelanjakan uang — mereka hanya lebih bijak.
8. Bagaimana Ekonomi Indonesia Bisa Berubah Berdasarkan Tren Ini?
Jika tren hidup hemat dan minimalis terus berlanjut, Indonesia dapat mengalami perubahan struktur konsumsi.
a. Industri barang mewah bisa turun penjualan
Produk high-end akan semakin niche.
b. Ekonomi lokal berkembang
UMKM yang menyediakan produk fungsional dan durable akan semakin dicari.
c. Layanan keuangan berkembang ke arah edukasi
Banyak bank dan fintech mulai fokus pada literasi finansial.
d. Industri digital harus menciptakan model harga baru
Bundling, harga hemat, dan layanan fleksibel akan lebih diminati dibanding paket premium.
9. Psikologi di Balik Pilihan Hidup Minimalis Generasi Muda
Selain faktor ekonomi, ada alasan psikologis mengapa generasi muda beralih ke gaya hidup hemat.
a. Overload informasi dan pilihan
Terlalu banyak produk, konten, dan “keinginan baru” membuat mereka lelah. Minimalisme memberikan rasa tenang.
b. Kesadaran lingkungan
Generasi muda lebih sadar sampah dan keberlanjutan.
c. Trauma finansial kolektif
Pandemi mengubah cara anak muda memandang risiko finansial.
d. Keinginan hidup lebih sederhana
Semakin banyak yang ingin hidup tidak terjebak di lingkaran cicilan.
10. Kesimpulan: Generasi Muda Sedang Merapikan Hidupnya
Kenaikan biaya hidup yang tidak bisa dihindari membuat banyak anak muda Indonesia beradaptasi. Bukan dengan stres atau panik, tetapi dengan membangun sistem hidup yang lebih hemat, lebih minimalis, dan lebih sadar uang.
Tren ini bisa menjadi sesuatu yang positif bagi masa depan:
- keuangan generasi muda jadi lebih sehat,
- konsumsi jadi lebih berkualitas,
- dan masyarakat Indonesia bisa berkembang sebagai komunitas ekonomi yang lebih bijak.
Jika beberapa tahun lalu gaya hidup minimalis hanya tren estetika Instagram, kini ia menjadi gerakan kolektif untuk bertahan dan berkembang di kondisi ekonomi modern. Generasi muda tidak hanya menekan pengeluaran. Mereka menata ulang hidup mereka





