Generasi Baru, Cara Pandang Baru Tentang Kerja
Generasi Z — mereka yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an — kini mulai mendominasi dunia kerja di Indonesia. Dengan karakter yang lebih melek digital, terbuka terhadap perubahan, dan penuh idealisme, Gen Z menghadirkan cara pandang baru terhadap makna pekerjaan.
Jika generasi sebelumnya bekerja demi stabilitas dan penghasilan besar, maka Gen Z justru mencari tujuan, makna, dan keseimbangan hidup.
Mereka bertanya bukan hanya “berapa gaji saya?”, tetapi juga “apa dampak pekerjaan saya?”.
Fenomena ini mengubah wajah dunia kerja modern — dari sekadar tempat mencari nafkah menjadi ruang untuk berkontribusi, belajar, dan tumbuh secara emosional maupun sosial.
1. Perubahan Nilai: Dari Gaji ke Makna
Bagi banyak Gen Z, uang penting, tapi bukan segalanya.
Mereka hidup di era di mana teknologi memungkinkan banyak peluang, dari karier korporasi hingga profesi kreatif mandiri.
Riset dari LinkedIn Global Workforce Report 2025 menunjukkan bahwa 73% profesional muda di Asia Tenggara memilih pekerjaan yang “bermakna” dibanding gaji tinggi tanpa tujuan jelas.
Apa yang mereka maksud dengan “bermakna”?
- Pekerjaan yang berdampak positif bagi orang lain.
- Tempat kerja yang menghargai keseimbangan hidup.
- Lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan sosial.
- Budaya perusahaan yang inklusif dan menghormati nilai-nilai manusia.
Dengan kata lain, Gen Z tidak hanya ingin bekerja untuk perusahaan — mereka ingin tumbuh bersama visi perusahaan itu.
2. Faktor Sosial dan Emosional di Balik Perubahan Ini
Tren ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang membentuk cara pandang Gen Z terhadap dunia kerja:
- Krisis makna di era digital.
Generasi ini tumbuh di tengah derasnya informasi dan media sosial, di mana prestasi sering diukur dengan angka. Mereka ingin sesuatu yang lebih otentik — sesuatu yang berarti, bukan hanya terlihat sukses. - Pengalaman pandemi COVID-19.
Pandemi membuka mata banyak orang bahwa waktu dan kesehatan jauh lebih berharga daripada gaji besar. Gen Z yang memasuki dunia kerja saat masa pandemi merasakan langsung pentingnya keseimbangan hidup. - Tumbuh di era keterbukaan.
Akses terhadap informasi global membuat mereka melihat banyak contoh perusahaan yang sukses karena nilai-nilai kemanusiaan — bukan semata keuntungan finansial. - Kebutuhan akan identitas.
Pekerjaan bagi Gen Z bukan hanya sumber penghasilan, tapi bagian dari identitas diri. Mereka ingin bangga saat ditanya: “Kamu kerja di mana dan ngapain?”
3. Apa yang Dimaksud “Makna” oleh Gen Z?
Bagi Gen Z, makna dalam pekerjaan bisa diartikan dalam berbagai bentuk, tergantung individu dan konteksnya. Namun secara umum, ada tiga dimensi utama yang sering muncul:
a. Dampak Sosial
Mereka ingin tahu apakah pekerjaan mereka punya pengaruh nyata — baik bagi masyarakat, lingkungan, maupun industri.
Contohnya, banyak Gen Z memilih bekerja di startup sosial, perusahaan berkelanjutan, atau proyek yang memiliki misi sosial seperti pemberdayaan UMKM atau edukasi digital.
b. Keseimbangan Hidup
Work-life balance bukan lagi “bonus”, tapi syarat utama.
Mereka menghargai waktu pribadi, kesehatan mental, dan kebebasan untuk mengatur ritme kerja sesuai gaya hidup.
c. Pertumbuhan Pribadi
Bekerja bukan sekadar mengulang tugas harian, tapi menjadi proses belajar berkelanjutan.
Mereka ingin tempat kerja yang memberi ruang untuk bereksperimen, belajar hal baru, dan mengembangkan potensi diri.
4. Perusahaan Harus Menyesuaikan Diri
Tren ini memaksa perusahaan untuk bertransformasi dalam budaya kerja dan manajemen talenta.
Perusahaan yang ingin menarik dan mempertahankan talenta Gen Z tidak bisa lagi hanya menawarkan gaji tinggi — mereka harus menawarkan makna dan pengalaman.
Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan perusahaan:
- Tumbuhkan nilai dan tujuan perusahaan yang jelas.
Visi perusahaan harus lebih dari sekadar profit; harus memiliki purpose yang bisa dikaitkan dengan nilai sosial. - Bangun budaya kerja inklusif dan partisipatif.
Gen Z ingin didengar. Libatkan mereka dalam pengambilan keputusan dan ruang ide. - Fasilitasi pertumbuhan pribadi dan profesional.
Sediakan pelatihan, mentoring, dan kesempatan untuk eksplorasi lintas divisi. - Berikan fleksibilitas dan kepercayaan.
Mereka menghargai hasil, bukan jam kehadiran. - Berdayakan komunikasi dua arah.
Budaya feedback terbuka membuat mereka merasa dihargai dan punya tempat untuk berkembang.
Dengan pendekatan seperti ini, perusahaan tidak hanya akan memiliki karyawan yang loyal, tapi juga advokat merek (brand ambassador) yang tulus.
5. Studi Kasus: Tren di Indonesia
Tren “makna di atas uang” kini mulai terasa di banyak sektor kerja Indonesia.
- Startup dan industri kreatif jadi magnet utama bagi Gen Z karena fleksibilitas dan visi sosialnya.
- Perusahaan teknologi seperti Gojek, Tokopedia, dan Ruangguru menerapkan kebijakan kerja berbasis impact dan kolaborasi.
- Di sektor korporasi, bank dan perusahaan multinasional mulai memperkenalkan program employee purpose alignment untuk menghubungkan nilai pribadi karyawan dengan tujuan perusahaan.
Menurut survei Glints Indonesia 2025, 56% pekerja Gen Z menolak tawaran gaji tinggi jika pekerjaan itu tidak sesuai dengan nilai pribadi mereka.
Sementara 84% lainnya menyatakan lebih betah bekerja di perusahaan yang peduli terhadap kesejahteraan mental dan sosial.
6. Uang Masih Penting, Tapi…
Tentu saja, Gen Z bukan anti-uang. Mereka tetap menghargai stabilitas finansial, terutama di tengah biaya hidup yang meningkat.
Namun, mereka memiliki cara berbeda dalam memandang uang: uang adalah sarana, bukan tujuan.
Mereka lebih rela menerima gaji sedikit lebih kecil asal bisa bekerja di tempat yang selaras dengan nilai mereka — dan memberikan kesempatan berkembang.
Prinsipnya: “Saya ingin bahagia dulu, baru kaya.”
Hal ini juga membuat mereka cenderung lebih berani berpindah kerja jika merasa tidak cocok, tanpa takut kehilangan status atau gaji besar.
7. Tantangan bagi Dunia HR dan Manajemen
Bagi HR dan pemimpin perusahaan, tantangan utama adalah menjembatani harapan antara generasi lama dan generasi baru.
Manajemen senior yang terbiasa dengan hierarki dan sistem formal perlu belajar memahami bahwa motivasi Gen Z berbeda secara fundamental.
Beberapa tantangan nyata di lapangan:
- Retensi talenta menurun karena karyawan muda cepat bosan atau tidak merasa “bermakna.”
- Kesulitan komunikasi antar generasi karena perbedaan gaya kerja dan bahasa.
- Tuntutan fleksibilitas dan transparansi yang lebih tinggi dari karyawan muda.
Namun, perusahaan yang mampu memahami dan beradaptasi justru akan lebih kuat.
Mereka tidak hanya mendapat pekerja, tapi juga mitra kolaborasi yang kreatif dan loyal.
8. Tren Global: Dari Work-Life Balance ke Work-Life Integration
Di tingkat global, tren ini berkembang menuju konsep baru: work-life integration.
Bagi Gen Z, pekerjaan bukan hal yang harus dipisahkan dari kehidupan pribadi, melainkan bagian dari identitas dan ekspresi diri.
Mereka tidak keberatan bekerja lebih keras jika pekerjaan itu sejalan dengan nilai hidup dan memberi ruang berekspresi.
Itulah sebabnya banyak Gen Z yang menjadi content creator, social entrepreneur, atau freelancer, karena profesi ini memberi kebebasan menentukan arah hidup sendiri.
Indonesia pun mulai mengalami gelombang ini — dengan meningkatnya minat terhadap pekerjaan kreatif, remote, dan berbasis nilai sosial.
9. Masa Depan Dunia Kerja: Makna Sebagai Mata Uang Baru
Dalam lima tahun ke depan, kita akan melihat perubahan besar dalam cara organisasi memandang kinerja dan loyalitas.
Bukan lagi semata tentang KPI dan target angka, tetapi tentang engagement, purpose, dan connection.
Perusahaan yang menanamkan nilai dan makna dalam budaya kerjanya akan memiliki daya tarik kuat bagi generasi muda.
Mereka akan menjadi tempat kerja yang bukan hanya produktif, tapi juga manusiawi.
Dengan begitu, purpose-driven company akan menjadi standar baru, bukan sekadar tren sesaat.
Kesimpulan: Gen Z Mengajarkan Kita Arti Bekerja dengan Hati
Generasi Z sedang mengajarkan dunia kerja satu hal penting:
Bahwa pekerjaan bukan hanya tentang bertahan hidup, tapi juga tentang menjalani hidup dengan arti.
Uang tetap dibutuhkan, tapi bukan menjadi pusat segalanya.
Yang lebih mereka cari adalah koneksi, kontribusi, dan keseimbangan — hal-hal yang memberi nilai pada waktu dan tenaga mereka.
Dan bagi perusahaan, memahami nilai-nilai ini bukan hanya strategi rekrutmen, tapi juga investasi jangka panjang untuk membangun organisasi yang relevan dan berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, di balik setiap inovasi digital dan target bisnis, ada satu hal yang tak pernah berubah:
Manusia tetap bekerja untuk merasa berarti.





