Pemandangan pedagang sayur yang kini sibuk live streaming di TikTok Shop mungkin terdengar tidak biasa beberapa tahun lalu. Namun hari ini, hal itu menjadi simbol perubahan besar di dunia usaha kecil Indonesia.
Dari kios sederhana di pasar, kini mereka bisa menjual produknya ke seluruh Indonesia — bahkan ke luar negeri — hanya dengan ponsel dan koneksi internet.
Transformasi ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari gelombang besar digitalisasi UMKM yang sedang melanda Indonesia.
Platform seperti TikTok Shop, Shopee Live, dan Instagram Reels menjadi “pasar baru” bagi jutaan pelaku usaha mikro dan kecil yang ingin menjangkau konsumen milenial dan Gen Z.
1. UMKM, Tulang Punggung Ekonomi yang Sedang Bertransformasi
UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) selama ini dikenal sebagai penopang utama perekonomian Indonesia.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), hingga 2024, terdapat lebih dari 65 juta pelaku UMKM yang menyumbang 61% terhadap PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja.
Namun, di tengah perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda, pelaku UMKM kini dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana tetap relevan di era digital.
“Dulu pelanggan saya datang langsung ke kios. Sekarang, mereka lebih sering belanja lewat TikTok atau marketplace,” ujar Fitri, pemilik usaha keripik di Bandung yang kini aktif berjualan online.
Digitalisasi bukan lagi pilihan tambahan — tapi kebutuhan agar bisa bertahan dan berkembang.
2. Lahirnya “Pasar Baru” di Dunia Digital
Bila dulu pasar tradisional jadi pusat interaksi sosial dan jual beli, kini fungsinya perlahan digeser oleh platform e-commerce dan media sosial interaktif.
Konsumen muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z, cenderung:
- Mencari produk lewat media sosial.
- Menonton review atau live shopping sebelum membeli.
- Memilih merek yang autentik dan punya cerita (brand story).
Inilah yang membuat platform seperti TikTok Shop menjadi arena baru bagi UMKM.
TikTok bukan sekadar tempat hiburan, tetapi juga wadah promosi, interaksi, dan penjualan langsung.
Melalui fitur live shopping, pelaku UMKM bisa menampilkan produk secara real-time, menjawab pertanyaan pembeli, bahkan memberikan promo langsung — semua dalam satu aplikasi.
3. TikTok Shop: Antara Hiburan dan Transaksi
Popularitas TikTok Shop tidak lepas dari kemampuan platform ini memadukan hiburan dan belanja.
Konsumen tidak merasa sedang “dipaksa membeli,” melainkan menikmati konten yang menghibur — dan di tengahnya, menemukan produk yang menarik.
Konsep ini dikenal sebagai “Shoppertainment”, yaitu perpaduan antara shopping dan entertainment.
“Live TikTok bikin jualan saya beda. Orang nonton, ketawa, terus tiba-tiba beli,” kata Rudi, penjual sambal kemasan dari Surabaya yang berhasil meningkatkan penjualan hingga 300% setelah rutin live setiap malam.
Strategi semacam ini berhasil menarik konsumen milenial, yang cenderung impulsif, visual, dan suka berinteraksi langsung dengan penjual.
4. Konsumen Milenial: Pasar Baru yang Dinamis
Generasi milenial dan Gen Z kini memegang kendali atas pola konsumsi di Indonesia.
Data We Are Social (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 77% pengguna internet Indonesia aktif di TikTok, dan mayoritas berada di rentang usia 18–35 tahun.
Kelompok usia ini memiliki karakteristik unik:
- Lebih suka konten visual daripada teks.
- Cenderung membeli produk yang memiliki nilai personal dan emosional.
- Percaya pada influencer dan review langsung, bukan iklan formal.
- Menyukai proses belanja yang cepat dan interaktif.
Inilah alasan mengapa banyak UMKM mulai memindahkan aktivitas promosi mereka ke TikTok dan media sosial serupa.
Dengan pendekatan yang tepat, satu siaran langsung bisa menghasilkan omzet setara seminggu jualan di pasar.
5. Strategi UMKM Menembus Dunia Digital
Tidak cukup hanya pindah platform, pelaku UMKM juga harus beradaptasi dalam cara berkomunikasi dan menjual.
Beberapa strategi yang kini terbukti efektif di TikTok Shop antara lain:
a. Konten yang Autentik
Penonton tidak menyukai video yang terlalu formal.
Konten sederhana yang menunjukkan proses pembuatan produk, interaksi lucu dengan pelanggan, atau cerita perjuangan UMKM justru lebih menarik.
b. Live Shopping Rutin
Konsistensi adalah kunci.
Penjual yang rutin melakukan live pada jam tertentu biasanya memiliki basis penonton tetap dan lebih dipercaya.
c. Kolaborasi dengan Influencer Lokal
UMKM yang bekerja sama dengan micro influencer sering kali berhasil memperluas jangkauan pasar tanpa biaya besar.
d. Respons Cepat dan Layanan Ramah
Kecepatan membalas chat dan menjaga hubungan baik dengan pembeli adalah kunci loyalitas di dunia digital.
“Saya belajar bahwa jualan online bukan cuma soal produk, tapi cara menyapa orang,” ungkap Siska, penjual batik modern di Yogyakarta.
6. Tantangan Digitalisasi bagi UMKM
Meski peluangnya besar, transformasi digital juga membawa tantangan.
Banyak pelaku UMKM menghadapi kesulitan dalam:
- Akses internet yang belum merata, terutama di daerah.
- Literasi digital yang masih rendah.
- Kemampuan produksi konten.
- Ketergantungan pada platform tertentu.
Keterampilan dasar seperti membuat video, memahami algoritma TikTok, hingga mengatur logistik dan pembayaran online masih menjadi kendala utama.
Menurut laporan Bank Indonesia (2024), baru sekitar 35% UMKM di Indonesia yang benar-benar go digital dalam aspek pemasaran dan transaksi.
Artinya, masih ada ruang besar untuk berkembang — jika didukung oleh pelatihan dan ekosistem yang tepat.
7. Peran Pemerintah dan Platform Digital
Pemerintah Indonesia kini semakin aktif mendorong UMKM untuk masuk ke ekosistem digital.
Melalui program seperti:
- “Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI)”
- “Digitalisasi 30 juta UMKM 2025”
- Pelatihan e-commerce bersama Kominfo dan TikTok
Pemerintah berharap transformasi ini bisa memperkuat daya saing UMKM di era global.
“Digitalisasi adalah jalan untuk membuka pasar baru. Kita ingin UMKM naik kelas, dari lokal ke nasional bahkan internasional,” ujar Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki.
Sementara itu, platform seperti TikTok, Shopee, dan Tokopedia juga menyediakan pelatihan gratis dan inkubasi bisnis digital untuk membantu pelaku usaha mengoptimalkan strategi online mereka.
8. TikTok Shop dan Kebijakan yang Sempat Menuai Kontroversi
Tidak bisa dipungkiri, kehadiran TikTok Shop juga sempat memunculkan perdebatan.
Pada akhir 2023, pemerintah sempat menutup sementara fitur transaksi TikTok Shop karena kekhawatiran soal persaingan tidak sehat dengan pasar konvensional.
Namun setelah melakukan penyesuaian kebijakan dan kolaborasi dengan Tokopedia, TikTok Shop kembali beroperasi secara resmi di Indonesia pada 2024 — kini dengan sistem yang lebih teratur dan patuh terhadap regulasi perdagangan digital.
Kembalinya TikTok Shop justru memberi napas baru bagi UMKM.
Mereka kini memiliki wadah yang lebih aman, transparan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif lokal.
9. Dampak Ekonomi: UMKM Naik Kelas
Efek langsung dari digitalisasi ini mulai terasa.
Menurut riset LPEM UI (2024), UMKM yang aktif menggunakan platform digital mengalami peningkatan pendapatan rata-rata hingga 40% lebih tinggi dibanding yang hanya mengandalkan penjualan offline.
Selain itu:
- Biaya promosi menurun hingga 60%.
- Akses ke pelanggan baru meningkat signifikan.
- Brand awareness meningkat melalui konten viral.
Banyak pelaku UMKM yang dulunya hanya melayani konsumen di daerah, kini mengirim produk ke seluruh Indonesia bahkan ke mancanegara.
“Sebelum jualan di TikTok, saya cuma punya pelanggan di Cirebon. Sekarang kirim ke Batam, Makassar, bahkan Malaysia,” cerita Andi, pemilik usaha kaos lokal.
10. Pergeseran Pola Konsumsi: Dari Transaksi ke Interaksi
Salah satu perubahan paling menarik dari fenomena TikTok Shop adalah pergeseran pola konsumsi.
Konsumen kini tidak sekadar membeli barang, tapi juga menikmati pengalaman berbelanja yang interaktif.
Mereka bisa:
- Bertanya langsung ke penjual.
- Melihat produk secara detail lewat video.
- Mendapatkan diskon atau giveaway spontan selama live.
Interaksi semacam ini membangun rasa kedekatan antara penjual dan pembeli — sesuatu yang dulu hanya ada di pasar tradisional.
Ironisnya, teknologi kini justru mengembalikan “jiwa pasar” itu ke dunia digital.
11. UMKM dan Branding di Era Digital
Satu hal penting yang mulai dipahami pelaku UMKM adalah:
Branding kini sama pentingnya dengan produk.
Milenial dan Gen Z tidak hanya membeli barang, tetapi juga nilai dan cerita di baliknya.
Oleh karena itu, pelaku UMKM yang sukses di TikTok Shop biasanya:
- Menampilkan cerita autentik tentang produk.
- Menghadirkan wajah penjual (bukan sekadar logo).
- Memperlihatkan proses pembuatan barang.
- Menggunakan gaya komunikasi yang santai dan relatable.
Contohnya, akun seperti @kopi_desa, @bajubatikindie, dan @keripikmbokdhe berhasil menciptakan komunitas pembeli yang loyal — bukan hanya pelanggan sementara.
12. Masa Depan: Sinergi Pasar Tradisional dan Digital
Meski digitalisasi berkembang pesat, pasar tradisional tidak akan hilang.
Sebaliknya, yang akan muncul adalah sinergi antara dua dunia: offline dan online.
Beberapa pelaku UMKM kini mengadopsi model “phygital” (physical + digital), di mana:
- Transaksi bisa terjadi secara online.
- Pengambilan barang tetap dilakukan di toko fisik.
- Promosi dilakukan lewat media sosial, tapi pelayanan tetap personal.
Dengan model ini, UMKM tetap menjaga hubungan sosial khas pasar, sekaligus memperluas jangkauan melalui dunia digital.
13. Insight Profesional: Apa yang Bisa Dipelajari Perusahaan Besar dari UMKM
Menariknya, banyak perusahaan besar kini justru belajar dari strategi UMKM digital.
UMKM dikenal cepat beradaptasi, berani bereksperimen, dan dekat dengan konsumennya.
Beberapa pelajaran penting:
- Responsif terhadap tren pasar.
- Kreatif dalam pemasaran tanpa biaya besar.
- Menonjolkan sisi manusiawi dalam brand.
Perusahaan besar yang ingin menjangkau milenial kini mulai meniru pola ini: menghadirkan konten ringan, interaktif, dan relatable.
14. Kesimpulan: UMKM Indonesia Siap Naik Kelas di Era Digital
Transformasi dari pasar tradisional ke TikTok Shop bukan hanya soal teknologi — tapi perubahan cara berpikir dan berjualan.
Pelaku UMKM kini tidak lagi terbatas oleh lokasi, waktu, atau ukuran usaha.
Dengan smartphone dan kreativitas, mereka bisa bersaing dengan merek besar dan menjangkau pasar milenial yang dinamis.
Fleksibilitas digital memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh lebih besar, lebih cepat, dan lebih terhubung.
Perjalanan ini baru dimulai.
Namun satu hal jelas: masa depan UMKM Indonesia ada di ujung jari — di layar-layar kecil yang menayangkan pasar digital terbesar di Asia Tenggara.





