Jakarta, Oktober 2025 — Kenaikan harga bahan pokok kembali menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, komoditas seperti beras, minyak goreng, cabai, bawang, dan gula menunjukkan pola fluktuasi yang cenderung naik. Jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat, lonjakan harga ini dapat semakin menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah dan menengah.
Laporan dari Panel Harga Badan Pangan Nasional mencatat bahwa sejumlah komoditas pangan mulai menunjukkan kenaikan pada kuartal ini, dengan kenaikan persentase harian yang meskipun relatif kecil, tetapi jika dijumlah dalam waktu beberapa minggu akan berdampak signifikan pada anggaran rumah tangga.
Tidak hanya di pasar lokal — data global menunjukkan bahwa inflasi pangan (food inflation) di Indonesia diperkirakan mencapai 1,70 % menjelang akhir kuartal ini. Sementara itu, sebuah analisis dari media bisnis memproyeksikan bahwa pada 2025, harga kebutuhan pokok bisa naik hingga 20 % dari posisi sekarang.
Kenaikan harga ini menjadi tantangan besar: bagaimana masyarakat bisa tetap bertahan dan menjaga kestabilan keuangan rumah tangga? Dalam artikel ini, kita akan membahas:
- Apa penyebab utama kenaikan harga kebutuhan pokok
- Dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari
- Strategi praktis yang bisa dilakukan oleh keluarga dan individu
- Dukungan kebijakan publik dan peran pemerintah
- Kesimpulan dan panggilan untuk aksi kolektif
1. Penyebab Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Untuk memahami apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk bertahan, kita harus terlebih dahulu memahami faktor-faktor penyebab kenaikan harga ini.
a) Disrupsi rantai pasok dan distribusi
Di antaranya:
- Keterlambatan distribusi: Di beberapa wilayah, bahan pokok terlambat sampai ke pasar akibat infrastruktur logistik yang kurang memadai, terutama di daerah terpencil. Ini menyebabkan stok menipis dan harga naik.
- Cuaca ekstrem dan kondisi alam: Hujan deras, banjir, kekeringan atau hama tanaman dapat merusak hasil panen, mengurangi pasokan bahan pokok utama seperti cabai, bawang, dan sayuran.
- Ekspektasi kenaikan harga: Pedagang atau produsen kadang menaikkan harga sedikit lebih awal sebagai antisipasi agar tidak kehilangan margin ketika biaya produksi benar-benar naik.
- Intervensi pasar dan kebijakan stok: Ada kasus di mana pasokan dikendalikan (misalnya melalui stok pemerintah) atau perusahaan mengakumulasi stok (hoarding), yang menyebabkan kelangkaan di pasar komersial.
b) Biaya produksi dan input meningkat
Komponen biaya produksi juga turut menjadi beban:
- Biaya pupuk, benih, dan pestisida naik akibat harga bahan baku global yang meningkat.
- Biaya transportasi/BBM naik membuat ongkos pengiriman lebih mahal.
- Upah tenaga kerja meningkat, terutama bila ada tekanan inflasi atau kenaikan standar upah minimum.
- Nilai tukar mata uang (kurs rupiah) melemah bisa membuat impor bahan baku menjadi lebih mahal.
c) Tekanan inflasi menyeluruh
- Inflasi umum (umum di seluruh sektor) menyebabkan kenaikan harga bahan bakar, listrik, dan barang input non-pangan, yang langsung atau tak langsung memengaruhi harga pangan.
- Kenaikan suku bunga atau kebijakan moneter bisa menekan konsumsi, tetapi dalam jangka pendek tekanan biaya tetap memicu kenaikan harga.
d) Permintaan tinggi & musiman
- Permintaan untuk bahan pokok meningkat menjelang momen tertentu seperti Ramadan, Idul Fitri, atau hari besar lainnya — hal ini sering mendorong lonjakan harga sementara.
- Konsumen cenderung membeli stok lebih awal saat mereka antisipasi kenaikan harga, yang justru mempercepat gestur kenaikan harga.
2. Dampak Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok terhadap Masyarakat
Ketika harga kebutuhan pokok naik, pengaruhnya terasa luas — dari konsumsi harian hingga aspek psikologis dan sosial.
a) Penurunan daya beli
Kenaikan harga barang pokok membuat masyarakat harus mengalokasikan porsi lebih besar dari pendapatan mereka untuk kebutuhan pokok (makanan, minuman, bahan pokok rumah tangga). Ini mengikis kemampuan membeli barang dan jasa lain, apalagi di kelompok berpendapatan rendah.
b) Ketidakpastian keuangan & stres
Keluarga yang tidak punya tabungan atau cadangan dana akan mudah stres ketika belanja bulanan membengkak. Kebingungan antara memotong pengeluaran di aspek penting—kesehatan, pendidikan, atau kebutuhan dasar.
c) Perubahan pola konsumsi
- Konsumsi barang substitusi: masyarakat mungkin beralih ke barang yang lebih murah atau substitusi (misalnya beralih jenis sayuran, atau mengurangi porsi daging).
- Penurunan kualitas makanan: membeli bahan kualitas rendah, atau menahan konsumsi sayur/daging demi menjaga anggaran tetap.
- Pemangkasan pengeluaran non-pokok seperti rekreasi, hiburan, atau barang konsumsi.
d) Sosial & politik
- Jika kenaikan harga terus-menerus terjadi tanpa ada intervensi yang memadai, akan muncul tekanan politik, protes dari masyarakat, atau peningkatan ketidakpuasan publik.
- Kelompok rentan (misalnya warga miskin, lansia, atau keluarga besar) menjadi semakin rentan.
3. Strategi Praktis untuk Masyarakat Bertahan
Meskipun tekanan harga pokok cukup besar, masyarakat tetap memiliki ruang untuk melakukan tindakan proaktif agar kondisi keuangan tetap stabil. Berikut strategi praktis yang bisa diterapkan:
3.1 Mengelola anggaran dengan lebih disiplin
- Catat pemasukan dan pengeluaran: Gunakan aplikasi keuangan sederhana (spreadsheet atau aplikasi budgeting) untuk melihat pos mana yang bisa dipotong.
- Prioritaskan kebutuhan pokok esensial, kurangi pengeluaran di kategori non-pokok (hiburan, gaya hidup).
- Gunakan daftar belanja dan hindari belanja impulsif — membeli sesuai rencana membantu Anda menghindari pemborosan.
3.2 Hemat dan efisiensi
- Kurangi makanan siap saji, makanan kemasan mahal, atau pengeluaran “gaya hidup” kecil yang bisa dikurangi.
- Memasak sendiri dibanding beli jadi bisa jauh lebih hemat.
- Belanja grosir atau di pasar tradisional bisa lebih murah dibanding di supermarket.
- Bandingkan harga antar toko / pasar — manfaatkan aplikasi perbandingan harga.
3.3 Siapkan dana darurat dan tabungan
- Sisihkan sebagian kecil pendapatan untuk dana darurat yang bisa memenuhi kebutuhan dasar selama 3–6 bulan.
- Meskipun sulit, tetaplah menabung meskipun jumlahnya kecil sebagai bantalan menghadapi kondisi tak terduga.
3.4 Mencari penghasilan tambahan / diversifikasi pendapatan
- Cari pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan dari rumah atau waktu fleksibel — misalnya freelance digital (desain grafis, penulisan, sosial media).
- Bisnis kecil berbasis lokal (jualan makanan ringan, sayur, produk dalam negeri) bisa menjadi tambahan pendapatan.
- Tingkatkan skill agar bisa mendapatkan pekerjaan berpenghasilan lebih tinggi (kursus online, pelatihan keterampilan digital, dsb.).
3.5 Berinvestasi dan diversifikasi aset
- Untuk melawan erosi nilai uang akibat inflasi, pilihlah instrumen investasi yang relatif aman dan bisa tumbuh — misalnya reksadana pasar uang, obligasi ritel, emas.
- Jangan menaruh seluruh dana di satu instrumen, lakukan diversifikasi agar risiko kerugian bisa diminimalkan.
3.6 Konsumsi produk lokal & sesuaikan kebiasaan beli
- Mendukung produk dalam negeri sering kali lebih murah, dan mengurangi ketergantungan impor yang mungkin terkena fluktuasi kurs.
- Beli musiman dan lokal: produk musiman di daerah lokal biasanya lebih murah dan lebih segar.
- Kurangi pembelian barang impor mahal yang terkena bea masuk/cukai tinggi.
3.7 Mengelola utang & kewajiban keuangan
- Prioritaskan melunasi utang berbunga tinggi terlebih dahulu.
- Hindari menambah utang konsumtif baru — kecuali benar-benar mendesak.
- Jika punya cicilan, usahakan pilih skema bunga tetap agar pembayaran tidak membengkak ketika suku bunga naik.
3.8 Gunakan teknologi & informasi harga
- Gunakan aplikasi pembanding harga, belanja daring, atau platform marketplace untuk melihat promo dan diskon.
- Pantau panel harga pangan dari pemerintah / lembaga resmi agar tahu harga rata-rata pasar.
- Manfaatkan program subsidi atau bantuan sosial jika tersedia di wilayahmu.
4. Peran Pemerintah dan Kebijakan Publik
Agar masyarakat lebih terlindungi dari tekanan kenaikan harga kebutuhan pokok, intervensi kebijakan publik sangat krusial. Berikut beberapa upaya yang biasanya diharapkan atau sedang dijalankan:
4.1 Intervensi pasar dan stabilisasi harga
- Pemerintah dapat melepas stok cadangan pangan (bulog atau program stok nasional) ke pasar untuk menekan harga.
- Atur impor sementara untuk beberapa komoditas tertentu agar pasokan mencukupi dan harga tidak melonjak drastis.
- Sebagian daerah menerapkan harga maksimum atau batas wajar untuk bahan pokok agar tidak ada eksploitasi harga.
4.2 Dukungan subsidi dan bantuan langsung
- Bantuan pangan bersubsidi atau paket sembako murah bagi kelompok miskin / rentan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar.
- Program tunai langsung (cash transfer) ke rumah tangga miskin agar memiliki daya beli lebih fleksibel.
4.3 Kebijakan moneter dan fiskal
- Bank sentral bisa menyesuaikan suku bunga, atau melakukan operasi pasar terbuka untuk mengendalikan likuiditas dan inflasi.
- Pemerintah dalam kebijakan fiskal bisa mengurangi pemborosan, alokasikan anggaran untuk produksi pangan atau infrastruktur logistik, dan memberikan insentif bagi produsen lokal.
- Pajak, tarif impor, dan regulasi dipertimbangkan ulang agar beban biaya impor tidak terlalu tinggi.
4.4 Peningkatan produksi dan produktivitas
- Beri insentif bagi petani (dana, pupuk, teknologi, penyuluhan) agar hasil panen meningkat dan biaya produksi turun.
- Modernisasi pertanian (irigasi, mekanisasi, benih unggul) agar hasil lebih stabil dan efisien.
- Dukungan riset dan inovasi agar varietas tahan hama/klimatik bisa digunakan luas.
4.5 Komunikasi publik & pengawasan pasar
- Pemerintah harus aktif mengumumkan data harga dan inflasi agar masyarakat tidak panik dan memiliki informasi yang transparan.
- Mengaktifkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar tingkat daerah ikut berperan dalam pengendalian harga lokal.
- Pengawasan terhadap praktik spekulatif atau manipulasi harga di pasar agar tidak ada oknum yang mengambil keuntungan berlebihan.
5. Kasus Terkini: Contoh Komoditas yang Naik dan Respons Pemerintah
Berikut beberapa contoh kasus aktual sebagai ilustrasi:
- Komoditas beras medium baru-baru ini mencetak harga baru sekitar Rp 15.950/Kg, padahal produksi beras domestik sebenarnya meningkat. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga pembelian petani dan stok berlebihan di Bulog yang menyebabkan kelangkaan di pasar komersial.
- Di Jawa Timur, harga cabai, bawang merah, dan cabai rawit mencatat kenaikan persentase harian antara 2 %–4 % beberapa waktu lalu, sementara beberapa komoditas seperti ayam atau daging turun.
- Panel Harga pangan menunjukkan bahwa pada rata-rata nasional, beberapa komoditas seperti jagung, bawang merah, dan kedelai mengalami kenaikan harian meskipun nilai nominalnya kecil.
Respons pemerintah dalam kasus beras misalnya, sempat melepas cadangan bulog ke pasar dan melakukan intervensi agar harga tidak melambung lebih tinggi. Namun, kritik muncul terkait manajemen stok, ketidaksesuaian kualitas, dan aksesibilitas beras murah bagi konsumen.
6. Tantangan & Catatan Penting
Beberapa catatan penting yang perlu digarisbawahi agar strategi masyarakat dan kebijakan publik bisa efektif:
- Ketidakmerataan akses: strategi seperti membeli grosir, produk lokal, atau diversifikasi pendapatan lebih mudah diterapkan di kota besar. Di daerah terpencil, akses logistik dan modal masih menjadi hambatan besar.
- Waktu reaksi: ada jeda antara kenaikan biaya produksi dan harga jual — masyarakat dan pemerintah perlu cepat merespon agar dampak tidak terlalu berat.
- Risiko inflasi ganda: jika kenaikan harga pokok tidak diimbangi peningkatan pendapatan atau dukungan, inflasi dapat “menginfeksi” pengeluaran lain seperti transportasi, listrik, dan layanan umum.
- Koordinasi lintas sektoral: kebijakan fiskal, moneter, pertanian, perhubungan, dan sosial harus sinkron agar dampak kebijakan tidak saling tumpang tindih.
- Aspek psikologis & ekspektasi: ketika masyarakat “sudah terbiasa” harga naik, mereka cenderung berekspektasi lebih tinggi di masa depan — yang bisa mempercepat kenaikan harga dalam pasar pasti.
- Transparansi & keadilan distribusi: intervensi pemerintah harus dijalankan dengan adil dan transparan agar tidak muncul tuduhan korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan.
7. Kesimpulan & Panggilan untuk Aksi
Kenaikan harga kebutuhan pokok adalah kenyataan yang harus dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Meski tantangan besar, masih ada ruang bagi individu, keluarga, dan komunitas untuk mengambil langkah agar tetap bertahan dan menjaga stabilitas keuangan. Langkah-langkah seperti pengelolaan anggaran disiplin, efisiensi pengeluaran, diversifikasi pendapatan, pemilihan investasi yang tepat, dan konsumsi lokal bisa menjadi strategi nyata.
Agar langkah masyarakat tidak berujung sia-sia, dukungan kebijakan publik pun sangat penting — intervensi pasar, program bantuan sosial, dukungan pertanian, dan kebijakan moneter/fiskal yang sinergis. Pemerintah dan lembaga terkait harus menjaga komunikasi terbuka dan transparan agar masyarakat tidak resah dan bisa merencanakan secara lebih rasional.
Aksi kolektif sangat diperlukan: pemerintah, swasta, masyarakat, dan media — semuanya punya peran dalam menjaga agar kenaikan harga kebutuhan pokok tidak menjadi krisis berkepanjangan. Di sisi masyarakat, mari terapkan strategi adaptif, kreatif, dan cerdas agar langkah bertahan bisa berdampak jangka panjang.
Source : Badanpangan Nasional, Trading Economics Indonesia, CNBC, Wantimpres RI, economics uii, Reuters, Goodstats, Pend. Ekonomi FEB Unesa, Goodstat Data, DJPB Kemenkeu, MI, detik.com





