Di dunia kerja yang semakin kompetitif, menjadi karyawan unggul bukan sekadar soal kinerja, tapi juga bagaimana seseorang menampilkan dirinya di hadapan atasan dan rekan kerja.
Namun, di antara semangat profesionalisme dan ambisi karier, muncul satu fenomena yang kini sering jadi pembicaraan: “Pick Me” di kantor.
Fenomena ini menggambarkan perilaku seseorang yang terlalu berusaha tampil “berbeda” atau “lebih baik” dari rekan kerja lain, dengan harapan mendapatkan pengakuan, perhatian, atau kesempatan istimewa dari atasan.
Meski sepintas terlihat sebagai bentuk dedikasi, perilaku pick me sering kali menimbulkan ketidakharmonisan di tempat kerja dan mencerminkan rasa tidak aman (insecure) yang tersembunyi di balik topeng ambisi.
1. Apa Itu Fenomena “Pick Me”?
Istilah “Pick Me” awalnya populer di media sosial untuk menggambarkan seseorang (sering kali perempuan) yang berusaha keras menonjol dengan cara merendahkan orang lain, agar “dipilih” atau disukai oleh pihak tertentu.
Dalam konteks dunia kerja, pick me behavior muncul dalam bentuk:
- Karyawan yang selalu mencari validasi atasan secara berlebihan.
- Individu yang menunjukkan kerja ekstra secara demonstratif, bukan efisien.
- Rekan kerja yang menjatuhkan tim lain agar dirinya tampak unggul.
Seseorang dengan perilaku pick me biasanya ingin terlihat paling loyal, paling rajin, atau paling “berbeda” — bukan semata karena profesionalisme, tapi karena kebutuhan psikologis untuk diterima dan diakui.
2. Di Kantor, Bentuknya Bisa Beragam
Fenomena ini sering kali sulit disadari karena dibungkus dalam perilaku yang tampak positif.
Berikut beberapa bentuk umum perilaku pick me di kantor:
🟢 a. Si Paling Sibuk
Selalu ingin terlihat paling banyak kerja.
Mereka sering berkata, “Wah, saya sampai lembur tiap malam,” atau “Saya nggak sempat istirahat karena semua proyek saya tangani sendiri.”
Padahal, tidak selalu produktif — tapi sibuk agar terlihat penting.
🟣 b. Si Penurut Atasan
Terlalu sering setuju dengan ide atasan meski tidak relevan.
Mereka ingin dikenal sebagai “tim paling loyal”, namun sering kali kehilangan objektivitas profesional.
🔵 c. Si Kompetitif Berlebihan
Alih-alih bekerja sama, mereka justru ingin menonjol dengan menutupi kontribusi rekan kerja.
Setiap keberhasilan tim diklaim sebagai hasil kerja pribadi.
🟠 d. Si Sosial Media Kantoran
Aktif mengunggah aktivitas kerja di media sosial — bukan untuk berbagi insight, tapi untuk membangun citra diri sebagai karyawan ideal.
3. Dari Ambisi ke Kebutuhan Pengakuan
Menurut psikolog organisasi, perilaku pick me di kantor sering kali bukan karena ambisi murni, melainkan rasa tidak aman terhadap posisi dan identitas profesional seseorang.
“Banyak pekerja muda ingin diakui. Tapi ketika pengakuan menjadi kebutuhan utama, muncullah perilaku pencitraan berlebihan,”
— dr. Maya Rachman, Psikolog Industri & Organisasi.
Dalam banyak kasus, pick me behavior muncul karena:
- Ketakutan tidak dianggap berprestasi.
- Persaingan internal yang ketat.
- Budaya perusahaan yang terlalu menonjolkan favoritisme.
- Minimnya apresiasi objektif dari manajemen.
Akibatnya, karyawan terdorong untuk menampilkan kesetiaan atau kerja keras semu, hanya agar mendapat perhatian.
4. “Pick Me” dan Dinamika Kerja di Era Digital
Di era LinkedIn, Instagram, dan Slack, batas antara kerja profesional dan personal branding semakin kabur.
Karyawan kini bukan hanya bekerja, tapi juga menjual citra dirinya secara online.
Postingan seperti:
“Lembur lagi, tapi demi perusahaan tercinta ❤️”
“Kerja keras nggak akan mengkhianati hasil 💪”
“Bangga bisa bantu tim menyelesaikan proyek ini meski weekend!”
…terlihat normal, tapi bisa menjadi bagian dari pick me culture jika niat utamanya adalah mendapat validasi sosial, bukan sekadar berbagi pencapaian.
5. Dampak Fenomena “Pick Me” di Kantor
Perilaku pick me tidak hanya memengaruhi individu, tapi juga dapat mengganggu dinamika kerja tim dan budaya perusahaan.
💬 a. Hilangnya Kepercayaan Antarrekan
Karyawan lain bisa merasa lelah bekerja dengan rekan yang selalu mencari perhatian atasan.
Hal ini menimbulkan kesan “kerja bareng tapi tidak sejalan.”
⚖️ b. Distorsi Penilaian Kinerja
Atasan mungkin kesulitan menilai kinerja objektif karena tertipu pencitraan.
Karyawan pick me sering tampak aktif, padahal kontribusinya tidak signifikan.
😓 c. Burnout dan Tekanan Emosional
Individu pick me cenderung perfeksionis dan takut gagal, yang dapat menyebabkan kelelahan mental dan stres berkepanjangan.
🤝 d. Hilangnya Kolaborasi Sehat
Ketika tiap individu ingin menonjol, nilai kebersamaan dalam tim menurun.
Budaya kerja pun bergeser dari teamwork menjadi showwork — bekerja untuk tampil, bukan untuk hasil.
6. Perspektif Profesional: Antara Ambisi dan Etika Kerja
Dalam batas tertentu, ingin menonjol bukan hal salah.
Ambisi dan semangat kompetitif justru penting untuk karier.
Namun yang membedakan adalah motivasi dan dampaknya terhadap lingkungan kerja.
“Ambisi sehat adalah ingin berkembang tanpa menjatuhkan orang lain,”
— Diana W., HR Consultant.
Karyawan dengan ambisi positif:
- Fokus pada kualitas kerja.
- Menerima kritik sebagai peluang perbaikan.
- Berorientasi pada hasil, bukan perhatian.
Sedangkan perilaku pick me lebih condong pada:
- Mencari perhatian dibandingkan kontribusi.
- Mengandalkan pencitraan daripada kemampuan nyata.
- Mengukur nilai diri dari validasi orang lain.
7. Budaya Kantor yang Bisa Memicu “Pick Me”
Fenomena ini sering kali bukan kesalahan individu semata, tapi juga refleksi dari budaya organisasi.
Beberapa faktor pemicunya:
- Favoritisme atasan: penghargaan lebih sering diberikan karena “siapa yang terlihat rajin” daripada hasil nyata.
- Kurangnya feedback formal: karyawan mencari pengakuan informal karena jarang diberi evaluasi objektif.
- Budaya kerja toksik: kompetisi berlebihan tanpa kerja sama.
- Minim ruang apresiasi tim: sehingga individu merasa harus menonjol sendiri agar diperhatikan.
Jika perusahaan tidak menyadari hal ini, maka pick me culture akan berkembang menjadi lingkungan kerja yang penuh drama dan ketidakpercayaan.
8. Studi Kasus: Ketika “Pick Me” Menjadi Krisis Tim
Sebuah studi oleh lembaga riset HR di Jakarta menunjukkan bahwa 43% perusahaan menghadapi masalah interpersonal akibat karyawan yang terlalu “menonjol sendiri.”
Kasus paling umum:
- Karyawan yang sering menyela rapat hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya tahu lebih banyak.
- Rekan yang selalu mengunggah hasil kerja tim seolah pencapaiannya pribadi.
- Karyawan yang mengambil kredit atas ide orang lain.
Akibatnya, performa tim menurun karena kolaborasi terganggu oleh ego.
Dalam beberapa perusahaan, bahkan terjadi rotasi tim atau penurunan produktivitas hingga 20% karena konflik interpersonal semacam ini.
9. Dari Sisi Psikologis: Akar Insecure dan Kebutuhan Pengakuan
Menurut teori kebutuhan Maslow, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia mencari rasa memiliki dan pengakuan (esteem needs).
Fenomena pick me adalah ekspresi dari kebutuhan ini — ketika seseorang mengaitkan nilai dirinya dengan pengakuan eksternal.
“Karyawan yang kurang percaya diri akan berusaha keras meyakinkan lingkungan bahwa mereka layak. Tapi karena cara yang digunakan salah, akhirnya justru menimbulkan resistensi sosial,”
— Psikolog Klinis, Rendi Kurnia, M.Psi.
Rasa insecure bisa berakar dari:
- Kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan diri.
- Trauma profesional di masa lalu (gagal diakui, dilewatkan promosi).
- Lingkungan yang menilai berdasarkan kesan, bukan prestasi.
10. Apakah Semua Perilaku “Tampil” Itu Salah?
Tidak semua tindakan menonjol berarti pick me.
Menunjukkan kinerja, menyampaikan ide, atau ingin dihargai secara profesional adalah hal wajar.
Perbedaannya terletak pada:
| Tujuan | Pick Me Behavior | Professional Visibility |
| Motivasi | Ingin disukai atau dipuji | Ingin berkontribusi dan berkembang |
| Fokus | Pencitraan diri | Dampak terhadap tim dan perusahaan |
| Cara | Mencari perhatian atasan | Membangun reputasi dengan hasil nyata |
| Dampak | Merusak hubungan kerja | Meningkatkan kredibilitas profesional |
Karyawan tetap perlu visible, tapi dengan cara yang etis, autentik, dan berorientasi hasil.
11. Cara Menghadapi Rekan “Pick Me” di Kantor
Jika kamu punya rekan kerja dengan perilaku seperti ini, beberapa strategi berikut bisa membantu menjaga profesionalitas:
💬 a. Jangan Terpancing Emosi
Ingat bahwa perilaku mereka sering berakar dari rasa tidak aman. Hindari konfrontasi emosional.
⚖️ b. Fokus pada Data dan Kinerja
Dalam setiap proyek, dokumentasikan hasil kerja dan kontribusi agar penilaian tetap objektif.
🧩 c. Bangun Komunikasi Terbuka
Ajak diskusi langsung dengan pendekatan profesional. Kadang mereka tidak sadar bahwa perilakunya mengganggu tim.
🤝 d. Libatkan Atasan Secara Bijak
Jika perilaku sudah berdampak pada produktivitas, laporkan dengan bukti yang relevan — bukan gosip.
12. Peran Atasan dan HR dalam Mengelola Fenomena Ini
Pemimpin dan tim HR berperan penting untuk mencegah pick me culture berkembang.
Beberapa langkah efektif antara lain:
- Terapkan sistem evaluasi berbasis kinerja, bukan kesan.
Gunakan indikator objektif dan transparan. - Bangun budaya apresiasi tim.
Rayakan pencapaian kelompok, bukan individu semata. - Berikan feedback rutin.
Bimbing karyawan agar memahami cara menunjukkan kinerja tanpa pencitraan. - Latih empati dan komunikasi lintas generasi.
Banyak kasus pick me muncul karena kesenjangan nilai antara senior dan junior.
13. Membangun Budaya “Authentic Work”
Sebagai antitesis dari pick me culture, banyak perusahaan mulai menanamkan nilai “authentic work culture.”
Budaya ini menekankan bahwa:
- Kinerja diukur dari hasil nyata, bukan jam kerja panjang.
- Komunikasi terbuka lebih dihargai daripada basa-basi pencitraan.
- Kolaborasi lebih penting daripada kompetisi internal.
“Karyawan yang autentik bukan yang paling menonjol, tapi yang paling bisa diandalkan,”
— CEO Startup HR Tech, N. Pramudya.
Dengan budaya ini, karyawan bisa menunjukkan potensi diri tanpa kehilangan integritas.
14. Transformasi Diri: Dari “Pick Me” ke “Team Player”
Jika kamu merasa pernah atau sedang terjebak dalam perilaku pick me, jangan khawatir — ini bisa diperbaiki.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Sadari motivasi di balik tindakan.
Apakah benar-benar ingin berkembang, atau hanya ingin diakui? - Bangun kepercayaan diri berdasarkan kompetensi.
Fokus pada peningkatan kemampuan, bukan validasi. - Hargai keberhasilan orang lain.
Apresiasi rekan kerja akan memperkuat reputasi positifmu. - Latih komunikasi asertif.
Berani bicara tanpa menjatuhkan. - Cari mentor atau coach profesional.
Bimbingan yang tepat dapat mengubah pola pikir dan cara kerja.
15. Kesimpulan: Antara Ambisi dan Kesehatan Emosional
Fenomena “pick me” di kantor adalah potret menarik dari dunia kerja modern — tempat ambisi, validasi, dan insekuritas bertemu dalam ruang profesional.
Ambisi memang penting, tapi ketika dorongan untuk diakui mengalahkan esensi kerja itu sendiri, maka kualitas profesionalitas mulai kabur.
Karyawan yang sehat secara emosional tidak butuh selalu “dipilih,” karena mereka tahu nilai dirinya terletak pada kontribusi nyata, bukan pencitraan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja dan budaya performatif media sosial, barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah saya bekerja untuk dilihat, atau untuk berdampak?”





