Oleh Redaksi Kehidupan & Sosial
Jakarta — Beberapa tahun terakhir, istilah “self-care”, “healing”, hingga “mental health awareness” menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Jika dulu berbicara soal kesehatan mental dianggap tabu atau bahkan lelucon, kini hal itu berubah drastis.
Dari kampus, kantor, hingga media sosial, semakin banyak orang mulai memahami bahwa bahagia bukan sekadar kondisi emosional sementara, melainkan bagian penting dari kesejahteraan hidup. Dan kesadaran ini, perlahan tapi pasti, mengubah cara masyarakat Indonesia memandang kesehatan mental.
🧠 Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Kesadaran Baru
Masih segar di ingatan banyak orang, bagaimana pada era 2000-an seseorang yang pergi ke psikolog atau psikiater sering dicap “tidak waras” atau “terlalu lebay”. Namun kini, stigma itu mulai memudar.
Menurut survei Kementerian Kesehatan dan Katadata Insight Center (2025), sebanyak 72% masyarakat urban Indonesia kini menganggap menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Bahkan 4 dari 10 responden mengaku pernah berkonsultasi ke psikolog atau mengikuti kegiatan self-care dalam setahun terakhir.
Perubahan ini dipicu oleh beberapa faktor: meningkatnya literasi digital, terbukanya akses informasi melalui media sosial, serta semakin banyak figur publik yang berani berbagi cerita tentang pengalaman mental health mereka.
💬 Media Sosial: Antara Sumber Inspirasi dan Tekanan Baru
Media sosial memiliki peran besar dalam meningkatkan kesadaran akan isu kesehatan mental. Banyak akun edukatif bermunculan, seperti @calmcorner.id atau @rasaindonesia, yang rutin membagikan tips menjaga emosi dan menghadapi stres.
Namun, sisi lain dari media sosial justru menciptakan tekanan baru. Fenomena “comparison culture” — di mana seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain di dunia maya — menjadi salah satu penyebab meningkatnya kecemasan dan rendah diri, terutama di kalangan Gen Z dan milenial.
Menurut riset UI Center for Digital Wellbeing (2025), 61% pengguna aktif media sosial di Indonesia merasa hidupnya “kurang baik” setelah melihat unggahan orang lain yang tampak lebih bahagia atau sukses.
“Kesadaran akan kesehatan mental memang meningkat, tapi ironisnya media sosial juga menjadi sumber stres terbesar bagi banyak orang,” ujar Dr. Livia Handoko, psikolog klinis dari Universitas Indonesia. “Kuncinya bukan menjauh, tapi belajar menggunakannya dengan sadar.”
🏢 Kantor dan Kampus Mulai Peduli
Jika dulu urusan mental dianggap masalah pribadi, kini banyak perusahaan dan institusi pendidikan mulai menjadikannya bagian dari kebijakan resmi.
Beberapa perusahaan besar seperti Tokopedia, Astra, dan Unilever telah meluncurkan Employee Wellbeing Program, yang mencakup sesi konseling gratis, cuti kesehatan mental, hingga kelas mindfulness untuk karyawan.
Di dunia kampus, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Binus University telah membuka Pusat Layanan Konseling Mahasiswa untuk membantu mahasiswa mengelola stres akademik dan tekanan sosial.
Menurut Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), isu burnout kini menjadi perhatian serius. Lebih dari 38% tenaga kerja profesional di Indonesia mengaku mengalami stres berat atau kelelahan emosional akibat beban kerja berlebih dan kurangnya dukungan sosial di tempat kerja.
“Perusahaan kini mulai paham bahwa kesehatan mental bukan biaya tambahan, tapi investasi produktivitas,” kata Anindya Sari, praktisi HR sekaligus konsultan people management.
👩⚕️ Akses Layanan Kesehatan Mental Semakin Terbuka
Dulu, mencari bantuan profesional untuk masalah mental terasa sulit — mahal, terbatas, dan sering dihakimi. Tapi kini, berbagai platform digital membuat layanan psikologis jauh lebih mudah diakses.
Platform seperti Riliv, Mindtera, dan Bicarakan.id menyediakan layanan konseling online dengan harga terjangkau. Bahkan sebagian di antaranya bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, sehingga masyarakat dapat mengakses layanan psikolog tanpa biaya tinggi.
“Setiap orang punya hak untuk merasa baik-baik saja. Dan sekarang, akses untuk mencapai itu jauh lebih mudah,” ujar Melly Wulandari, co-founder Mindtera.
Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga meluncurkan Program Sehat Jiwa Indonesia (SEJIWA) yang mengintegrasikan layanan konseling daring dengan puskesmas di 200 kota besar.
🪞 Budaya ‘Healing’ dan Self-Care: Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup
Istilah “healing” kini menjadi bagian dari budaya populer. Mulai dari jalan-jalan ke pantai, meditasi, journaling, hingga sekadar beristirahat dari kesibukan. Meski sering dikaitkan dengan gaya hidup konsumtif, pada dasarnya fenomena ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan akan istirahat emosional.
Menurut psikolog Ratih Ibrahim, healing tidak selalu berarti liburan mahal. “Healing bisa sesederhana berhenti sejenak, menarik napas dalam, dan menerima keadaan diri apa adanya. Yang penting bukan tempatnya, tapi kesadarannya.”
Namun, di sisi lain, banyak orang menjadikan istilah ini sekadar tren media sosial — foto di pantai dengan caption “lagi healing” tanpa benar-benar memahami maknanya. Ini yang kemudian melahirkan istilah “fake healing”, di mana seseorang tampak bahagia di luar tapi tetap tertekan di dalam.
💭 Generasi Z dan Krisis Makna
Salah satu kelompok yang paling sering membicarakan isu kesehatan mental adalah Generasi Z — mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012.
Meski dikenal lebih terbuka dan adaptif, banyak studi menunjukkan bahwa Gen Z justru mengalami tingkat stres dan kecemasan tertinggi dibanding generasi sebelumnya.
Faktor penyebabnya beragam: beban akademik, tekanan ekonomi, ketidakpastian karier, hingga ekspektasi sosial yang tinggi. Survei Nielsen Youth Report 2025 menyebutkan bahwa 64% anak muda Indonesia berusia 18–25 tahun merasa “tidak tahu arah hidupnya” meski aktif di dunia digital dan pendidikan tinggi.
“Gen Z tumbuh di era keterhubungan, tapi juga kesepian,” ujar dr. Yohana Esti, psikiater RS Cipto Mangunkusumo. “Mereka lebih sadar pentingnya bahagia, tapi belum tahu bagaimana mencapainya.”
💬 Dukungan Komunitas: Dari Online ke Dunia Nyata
Komunitas menjadi salah satu elemen penting dalam gerakan kesehatan mental di Indonesia.
Ada Befrienders Indonesia yang menyediakan layanan konseling sukarela untuk orang dengan pikiran bunuh diri. Ada pula Into The Light Indonesia, organisasi anak muda yang fokus pada pencegahan depresi dan literasi kesehatan mental.
Bahkan di media sosial, muncul berbagai gerakan positif seperti tagar #JanganDiamSaja, #BeraniBercerita, dan #KamuNggakSendiri, yang mengajak masyarakat berbicara tentang perasaan tanpa takut dihakimi.
Kampanye ini berhasil menumbuhkan empati di kalangan muda, menciptakan ruang aman untuk berbagi, dan mendorong perubahan budaya — dari menghakimi menjadi mendengarkan.
🧩 Peran Keluarga Masih Krusial
Meski kesadaran publik meningkat, masih banyak orang yang enggan terbuka kepada keluarga tentang masalah mentalnya. Sebagian takut dianggap lemah, kurang iman, atau “kurang bersyukur”.
Padahal, dukungan keluarga menjadi kunci utama pemulihan. “Keluarga adalah sistem dukungan pertama. Tanpa penerimaan dari rumah, seseorang sulit merasa aman untuk mencari bantuan,” kata psikolog keluarga, Siti Nurhayati.
Beberapa keluarga kini mulai berubah. Mereka lebih terbuka mendengarkan anak-anaknya, memahami tanda-tanda stres, dan tidak langsung menghakimi. Ini tanda bahwa perubahan cara pandang sedang terjadi — meski perlahan.
📊 Angka yang Mengkhawatirkan, Tapi Harapan Masih Ada
Data WHO tahun 2025 menyebutkan bahwa 1 dari 4 orang di dunia mengalami gangguan mental ringan hingga berat. Di Indonesia, diperkirakan ada 20 juta orang yang hidup dengan gejala depresi, kecemasan, atau stres kronis — namun baru sekitar 15% yang mendapatkan bantuan profesional.
Meski demikian, angka partisipasi konseling dan pencarian bantuan meningkat signifikan dibanding lima tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa kesadaran publik bergerak ke arah yang positif.
“Kesadaran adalah awal dari perubahan. Sekarang orang mulai berani bilang ‘aku butuh bantuan’, dan itu langkah besar,” kata Dr. Andri, psikiater dari RS Omni Alam Sutera.
🌿 Menuju Masyarakat yang Lebih Sehat Secara Mental
Kesehatan mental bukan hanya urusan individu, tapi juga tanggung jawab sosial dan kebijakan negara.
Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis: dari sistem kerja yang manusiawi, kurikulum pendidikan yang berorientasi empati, hingga kebijakan publik yang mengedepankan keseimbangan hidup.
Langkah kecil seperti memberi waktu istirahat yang cukup, menciptakan ruang aman untuk bicara, atau mengapresiasi karyawan bukan dari lembur, melainkan dari kualitas kerja, bisa membawa perubahan besar.
“Kita sedang menuju era di mana bahagia bukan kemewahan, tapi kebutuhan dasar,” kata Ratna Prameswari, aktivis kesehatan mental. “Dan semakin banyak orang sadar bahwa sehat mental adalah bagian dari hidup yang utuh.”
💡 Tips Menjaga Kesehatan Mental Sehari-hari
- Terima emosi apa adanya. Tidak semua hari harus produktif.
- Batasi konsumsi media sosial bila mulai merasa tertekan.
- Tidur cukup dan olahraga ringan. Aktivitas fisik meningkatkan hormon bahagia.
- Jaga hubungan sosial. Bicara dengan orang yang dipercaya bisa meringankan beban.
- Cari bantuan profesional. Psikolog atau konselor bisa membantu tanpa menghakimi.
🕊️ Penutup: Bahagia Bukan Sekadar Tren, Tapi Hak Setiap Orang
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental adalah salah satu perubahan sosial terbesar di Indonesia dalam dekade terakhir. Dari tabu menjadi topik umum, dari diam menjadi berani berbicara, dan dari tekanan menjadi penerimaan.
Kini, saat dunia semakin sibuk mengejar pencapaian, kesadaran untuk memilih bahagia menjadi bentuk perlawanan baru — bukan karena hidup tanpa masalah, tapi karena memilih untuk merawat diri di tengah tantangan.
Karena pada akhirnya, bahagia bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang menuju hidup yang lebih manusiawi.





